Filosofi Permainan “Chinese Whispers”

Suddenly I remembered something sewaktu dinas di Lombok. Tepatnya di Desa Sembalun Lawang yang ada di kaki Gunung Rinjani. Salah satu desa yang juga terdampak Gempa beberapa waktu lalu . Saat itu bersama para warga kita memainkan permainan “Chinese Whispers”  sebagai permainan edukasi melawan Hoax.

Buat kalian yang belum tau apa itu permainan “Chinese Whispers”   atau “The Telephone Game” (American English) adalah permainan anak-anak yang populer secara internasional. di mana pemain membentuk garis, dan pemain pertama muncul dengan pesan dan membisikkan ke telinga dari orang kedua di telepon. Pemain kedua mengulangi pesan ke pemain ketiga, dan seterusnya.

Ketika pemain terakhir tercapai, mereka mengumumkan pesan yang mereka dengar ke seluruh grup. Orang pertama kemudian membandingkan pesan asli dengan versi final. Meskipun tujuannya adalah untuk menyampaikan pesan tanpa itu menjadi kacau di sepanjang jalan, bagian dari kenikmatan adalah bahwa, terlepas, ini biasanya akhirnya terjadi. Kesalahan biasanya terakumulasi dalam retellings, jadi pernyataan yang diumumkan oleh pemain terakhir sangat berbeda dari pemain pertama, biasanya dengan efek lucu atau lucu. Alasan untuk perubahan termasuk kecemasan atau ketidaksabaran, koreksi yang salah, mekanisme berbisik yang sulit dipahami, dan bahwa beberapa pemain mungkin dengan sengaja mengubah apa yang dikatakan untuk menjamin pesan yang diubah pada akhir baris.
(begitu jelasnya kata wikipedia..hoho…)

Permainan ini sering digunakan sebagai metafora untuk kesalahan kumulatif, terutama ketidaktepatan karena desas-desus atau gosip menyebar atau, lebih umum, untuk tidak dapat diandalkannya ingatan manusia atau bahkan tradisi lisan. Itu alasan kenapa kita memainkan games ini sebagai contoh untuk edukasi anti Hoax. Apalagi setelah terjadinya bencana di Lombok banyak sekali berita-berita Hoax yang tidak bertanggung jawab menyebar di masyarakat.

Selain memberikan hiburan, permainan ini memiliki nilai pendidikan yang menunjukkan betapa mudahnya informasi menjadi rusak oleh komunikasi tidak langsung. Permainan ini sudah lama digunakan  untuk mensimulasikan penyebaran gosip dan efeknya yang dianggap berbahaya. Pesan moral dari permainan ini juga sangat related di kehidupan sehari-hari, dimana kita tidak boleh terburu-buru mempercayai pesan yang disampaikan secara lisan atau pun tulisan dari orang lain, apalagi pesan tersebut sudah melalui beberapa orang. Cara untuk menangkalnya yang paling basic yaitu, lihat atau tanyakan langsung kepada sumbernya sebelum kita mengkonsumsi pesan tersebut.

Yups! That’s the lesson I got from this game.
Random aja lagi kangen Lombok dan baru keinget karena habis mengalami kejadian yang ada korelasinya dengan games inih..
So guys remember this :
Saring before sharing or believing, cause there is “lie” in “believe”

 

Upload satu foto lagi deh kenang-kenangan di Sembalun~
Credits by: Babeh_Helmi

 

1 Comment

  1. Desawarna

    Desember 15, 2018 at 9:55 pm

    Wah keren kak , piknik bareng yuk

Leave a Reply